Chelsea merupakan juara bertahan Liga Inggris 2016/2017. Itu menjadi
musim yang cukup superior bagi mereka di Tanah Britania Raya. The Blues
mencatat hasil gemilang dengan raihan 30 kali menang, 3 kali seri dan 5
kali kalah untuk mengumpulkan 93 poin.
Catatan kemenangan pasukan
asuhan Antonio Conte ini jauh meninggalkan pesaingnya, Tottenham
Hotspur. Besutan Mauricio Pochettino hanya mampu meraih 26 kemenangan, 8
kali seri dan 4 kali kalah untuk meraih 86 poin. Bahkan posisi ketiga
yang ditempati Manchester City hanya mampu mendapatkan 78 poin dari 23
kemenangan, 9 kali seri dan 6 kali kalah.
Bandingkan dengan
perjalanan mereka musim ini yang mulai diragukan mampu mempertahankan
juara Liga Inggris. Baru delapan kali pertandingan, Chelsea sudah
menekan tiga kekalahan, sekali imbang dan empat kali menang. Jumlah 13
poin yang dikumpulkan Chelsea membuat mereka harus puas di posisi
kelima.
Manajer Chelsea, Antonio Conte
(Foto: Reuters/Phil Noble)<o:p></o:p>
Meski pertandingan masih banyak, Chelsea dipastikan akan
sulit mengejar pemuncak klasemen sementara yang dipegang Manchester
City. Anak asuh Pep Guardiola cukup tangguh dengan catatan 7 kemenangan,
sekali imbang dan tak terkalah hingga mengoleksi poin 22 atau selisih 9
poin dengan Chelsea.
City diunggulkan menjadi jawara dengan
pesaing terberatnya Manchester United yang berada si posisi kedua
setelah mengumpulkan 20 poin dari 6 kali menang, dua kali imbang dan
belum kalah sekalipun.
Melihat kondisi Chelsea musim ini, maka
dipastikan mereka kesulitan untuk mempertahankan gelar juara. Apalagi,
duo Manchester sedang berada dalam kondisi percaya diri dengan skuad
yang cukup menjanjikan. Chelsea pun akan dipaksa bekerja keras untuk
mengejar jatah tiket lolos langsung ke Liga Champions.
Sebenarnya
peluang Chelsea untuk merebut gelar juara Liga Inggris sudah habis.
Mereka seperti sudah ‘lempar handuk’ dari target menjadi kampiun di
kompetisi yang diklaim paling populer di dunia. Sinyal ‘lempar handuk’
ini sudah diutarakan sendiri oleh Antonio Conte.
“Untuk
mempertahankan gelar juara sangat sulit, tidak hanya bagi Chelsea, tapi
bagi setiap tim di liga ini (Liga Inggris-red). Sangat sulit untuk bisa
meraih dua gelar secara beruntun,” keluh Antonio Conte seperti dilansir
www.dailystar.co.uk (2/10/2017).
Chelsea menjuarai Premier League
2016-2017. (Foto: Ben STANSALL / AFP)<o:p></o:p>
Jika di Liga Inggris saja begitu sulit untuk diraih oleh
Chelsea, bagaimana dengan di Liga Champions musim ini. Rasanya ini
seperti mencari jarum di jerami dengan ketentuan waktu tertentu untuk
didapatkan. Begitulah tamsilan untuk menggambarkan gelar juara Liga
Champions bagi Chelsea.
Conte sepertinya sulit mengejar kesuksesan
yang pernah diraih Chelsea yang menjadi juara Liga Champions musim
2011/2012. Meski kala itu mereka melakoni persaingan dengan sangat
rumit, dimana dibawah asuhan Asisten Pelatih Roberto Di Matteo yang
menggantikan Pelatih Andre Villas Boas, dengan strategi ‘parkir bus’
sukses menjadi juara. Didier Drogba dkk berhasil mengalahkan tuan rumah
Bayern Muenchen di final lewat adu penalti dengan skor 4-3 (1-1).
Kenangan
itu sepertinya cukup sulit untuk diulang oleh Conte. Bayangkan saja,
tampil di hadapan publiknya sendiri di Stamford Bridge (19/10/2017) dini
hari WIB, Conte hanya mampu meraih satu poin setelah diimbangi tim
tamu, AS Roma 3-3 di matchday ketiga Liga Champions.
Padahal
peluang untuk menang cukup besar setelah mereka memimpin 2-0 lewat gol
David Luiz di menit 11 dan Eden Hazard di menit 37. Tapi Roma
bersemangat setelah tercipta gol Alesandar Kolarov pada menit 40 yang
disusul Edin Dzeko di menit 64 dan 70. Beruntung marwah tuan rumah
terselamatkan lewat gol terakhir Eden Hazard pada menit 75.
Memang
AS Roma bukan tim lemah yang mudah untuk ditaklukkan. Tapi keunggulan
2-0 kemudian menjadi 3-3 sebagai skor akhir jelas masalah besar bagi
Chelsea. Ini perlu perbenahan lebih lanjut meski pertandingan
selanjutnya di Liga Champions dan Liga Inggris.
Manajer Chelsea, Antonio Conte,
memimpin latihan Diego Costa dkk di California, Selasa (26/7/2016), jelang
pertandingan versus Liverpool.(Foto: MARK RALSTON/AFP)<o:p></o:p>
Karena sesuatu yang membanggakan adalah Chelsea masih
memimpin Grup C dengan tujuh poin. Termasuk hal yang bisa dibanggakan
Conte mampu mengalahkan Atletico Madrid dengan susah payah, 2-1 dan
pesta gol 6-0 atas Qarabag. Tandatangan selanjutnya akan lebih berat
bagi Conte di Liga Champions.
Harus diakui bahwa kemunduran
Chelsea musim ini tak terlepas dari ketidakharmonisan Conte dengan Diego
Costa. Harus diingat bahwa gelar juara Chelsea musim 2016/2017 tak
terlepas dari peran Costa yang berhasil mencetak 20 gol. Jumlah gol
tersebut membuat Costa menjadi pemain tersubur di Chelsea pada musim
itu.
"Namun, saya tak bisa menghormati kepribadiannya. Dia
(Antonio Conte-red) bukan pelatih yang dekat dengan pemain dan tak
berkarisma," ujar Costa seperti dilansir www.Telegraph.co.uk,
(14/8/2017)
Conte tak mampu membuat pendekatan dengan Costa
supaya betah di Chelsea dan ingin kembali ke klub lamanya, Atletico
Madrid. Ini juga diperngaruhi oleh sikap membandelnya Costa yang mulai
tak betah di klub milik Roman Abramovich itu. Untuk bisa mempertajam
lini depan Chelsea, maka Conte harus mulai mencari striker baru yang
naluri golnya bisa setara Costa dan Didier Drogba.
Tanpa pemain
sekaliber itu yang haus gol, semisal Costa dan Drogba, maka nasib Conte
pun bakal terulang seperti pendahulunya. Mengingat Roman Abramovich
adalah sosok yang gemar cabut mandat pelatih yang tak sesuai seleranya.
Conte harus menyadari nasib Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Roberto Di
Matteo dan lain-lain. Dia bisa didepak kapan saja dari kursi panas coach
Chelsea.(*)
Sumber